Biar Sehat dan Lincah (SOCMED HIATUS DAY 3) - 13 JULY 2022
Saya sudah 30.
Bukan usia yang terlalu tua tapi juga dibilang remaja, yhaa umur-umur tanggung gitu lah.
Nah, saya punya obsesi untuk selalu fit, enggak perlu kekar kayak Ade Rai tapi juga jangan sampai gendut, harus di batas BMI ideal agar ukuran pakaian saya selalu konsisten di S atau M, mangkanya saya secara ketat menjaga berat badan sekitar 59-61 kg yang selama 5 tahun terakhir konsisten di angka itu, yha kecuali lebaran tahun lalu sempat menyentuh 63 kg, gila ajeee.
Untuk menjaga berat badan bisa stabil, ada hal-hal kecil yang saya lakukan secara konsisten, yaitu:
Intermittent Fasting
Intermittent fasting sebetulnya puasa, bedanya dengan puasa Ramadan adalah saya makan di jam tertentu namun masih boleh minum setidaknya air putih.
Saya baru makan hanya di jam 12 siang sampai 8 malam, atau yhaa sengaret-ngaretnya 9 malam, sebetulnya fleksibel tidak terlalu strict, karena toh saya masih sarapan ketika di berada di luar kota untuk keperluan pekerjaan.
Kebiasaan intermittent fasting ini sudah berjalan 6 tahun, dan saya rasa ini adalah metode diet paling cocok bagi saya, karena saya tidak ada pantangan makan, karena ketika jam makan tiba saya bisa makan apapun yang saya mau, tentunya dengan porsi yang cukup saja bestiee.
Konsumsi Air Putih
Ini kebiasaan yang sangat saya banggakan.
Buat kengkawan yang kenal, biasanya tahu kalau ke manapun saya selalu membawa botol berisi air putih, saya tidak punya patokan minimal berapa liter air yang harus saya minum, tapi dari kebiasaan ini saya yakin lebih dari 2 liter air putih saya konsumsi setiap harinya.
Saya bersyukur, badan saya punya semacam indikator ketika kekurangan air putih atau kebanyakan konsumsi minuman manis, sehingga secara rutin saya dapat segera mencari air putih untuk menetralisirnya.
Tidak ada pantangan khusus untuk air berasa, tapi saya sangat menjaga batasan gula yang masuk ke tubuh, ketika sedang di tempat makan saya biasanya hanya memesan teh tawar atau air mineral, semacam ada rasa masyghul ketika makan enak diiringi minum air manis, aneh ajeh gituu.
Bergerak
Sebetulnya agak terlambat untuk sadar bahwa hobi saya adalah berolahraga, ketika kengkawan lain sudah menyenangi olahraga semenjak sekolah atau kuliah, saya justru baru rutin di seperempat abad, sebelumnya super mager, hahaha!
Lari jelas menjadi peringkat atas olahraga kesukaan saya, alasannya ya karena lari adalah olahraga paling sederhana yang bisa dilakukan tanpa butuh alat khusus, hanya butuh sepatu yang proper dan trek maka kita bisa cus membakar kalori.
Intinya sih saya suka bergerak, ada momen-momen kecil yang sering saya manfaatkan untuk bergerak, seperti memilih tangga ketimbang lift ketika di kantor, berjalan ke kantin ketimbang pesan beli makanan, atau memilih spot parkir sedikit lebih jauh agar bisa berjalan.
Rata-rata, dalam sehari saya berjalan minimal 8000 langkah, sport watch saya mencatat ini dengan baik, bahkan di akhir pekan bisa tembus belasan ribu langkah. Hal kecil, tapi dampaknya buesarrr.
![]() |
| 16k langkah di weekend |
Makanan
Nah, ini hal penting tapi sering dianggap remeh.
Selain tidak terlalu menyukai minuman manis, saya sangat menjaga apa yang masuk ke mulut. Kalau intermittent fasting tentang "bagaimana" saya makan, maka ini adalah "apa" yang saya makan.
Pertama, saya tidak suka makanan yang digoreng dan mengandung banyak tepung. Dulu saya merasa tidak ada yang istimewa dari hal ini, tapi ternyata "sinyal" gampang eneg kalau makan makanan digoreng itu anugerah, ada banyak risiko yang bisa saya hindari dengan sedikit makan gorengan.
Istri selalu paham kalau preferensi makanan saya adalah yang direbus atau dipanggang, sebelum menikah bahkan makanan saya tidak jauh dari kentang rebus, tahu rebus, telor rebus, dan ayam panggang. Monoton dan tidak variatif, hahaha
Lalu, saya juga tidak terlalu menyukai makan daging, beruntung saya punya istri yang tidak bisa makan daging sapi maupun kambing, jadi kuantitas makan daging saya sangat sedikit, jika di tempat makan saya lebih memilih tahu atau tempe ketimbang daging, alasannya? Ya karena suka aja.
Dari semua makanan yang dikonsumsi, saya rasa yang penting kebutuhan protein harian terjaga, kalori cukup tanpa harus menumpuk, dengan gizi sesuai kebutuhan.
---
Semua hal yang saya perhatikan di atas sebetulnya banyak terinspirasi dari idola saya Prof. Dr. H. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si atau yang biasa kita sapa Kak Seto.
Sudah 70 tahun tapi masih setia dipanggil "Kakak", beuh life goals sekali di tengah gempuran tren pemuda/i yang masih 20-an tapi suka mensugesti diri mereka sebagai "remaja jompo" (istilah kekinian yang sangat saya benci).
Yuk ah hidup sehat!

Comments
Post a Comment