Dari Kucing Sampai Sapiens (SOCMED HIATUS DAY 2) - 12 JULY 2022

Tadi pagi saya dan istri dibangunkan oleh gradak gruduk si Cucup Lesmana, kucing montok peliharaan kami.

Cucup biasanya tidur bersama kami, tapi tidak semalam karena saya menemukan jamur di punggungnya ketika sedang mengelus, jadi saya harus bilang "Cucup, malam ini bobonya di bawah, ya, nanti Sabtu mandi biar bersih badannya"

Untung Cucup paham, dan dia berpindah ke lantai bawah rumah kami, tidur di bean bag depan tv ruang tengah.

Cucup si kucing pintar!


Si Cucup


---

Hari kedua hiatus dari media sosial saya merasa punya waktu yang lebih banyak, saya sempat memasak untuk istri, yha meskipun cuma sayur sop simpel, saya sempat menyeduh kopi dengan racikan terbaik (hwazegg), dan tentunya lebih banyak waktu untuk membaca buku.

Saya punya kebiasaan untuk membaca buku setiap pagi, enggak lama, cuma sekitar 20-30 menitan setiap paginya.

Tapi hari ini saya punya waktu hampir satu jam untuk membaca, tanpa distraksi godaan mengecek handphone dan tanpa harus tahu apa yang sedang terjadi di media sosial.

Enak sekali rasanyaa.

---

Novel grafis Sapiens volume 2 adalah buku yang sedang saya baca hari ini, bagi yang sudah membaca Sapiens dan Homo Deus tentu tahu narasi besar yang diceritakan oleh Prof. Yuval Noah Harari. Nah, Sapiens versi novel grafis ini lumayan berbeda cara berceritanya, di sini Prof. Yuval "mengundang" para ahli untuk menjabarkan Sapiens dari perspektif ahli biologi, ahli fiksi, dan hukum, sehingga narasi yang dijabarkan tidak hanya keluar dari Prof. Harari.

Sungguh tidak estetik fotonya.

Salah satu bagian yang menurut saya bisa di-highlight dari buku ini adalah tentang perangkap kemewahan.

Bagaimana revolusi pertanian sekitar 12 ribu tahun lalu yang mengubah kehidupan manusia menjadi lebih kompleks karena kemampuan manusia untuk domestikasi tumbuhan dan hewan untuk kebutuhan hidup.

Tanaman seperti gandum yang semula tumbuh liar bisa dikontrol dan dibudidayakan sebagai sumber kalori. Memang, kebutuhan pangan menjadi tercukupi, namun kehidupan manusia yang semula sebagai pengumpul-pemburu menjadi harus menetap dan berhenti berpindah.

Tanpa sadar, manusia harus banyak menghabiskan waktu di ladang, dari menanam, menjaga, budidaya, hingga mengembangkan pertanian untuk kebutuhan hidupnya. 

Kehidupan yang sebelumnya "sederhana" cukup berburu dan berpindah, kini menjadi lebih rumit karena ada tanah yang harus ditanami, ladang yang harus dijaga dari hama, dan peningkatan yang terus menerus harus dipikirkan.

Sama seperti manusia modern yang berpikir bahwa dengan mempunyai uang lebih banyak dan memiliki jabatan lebih tinggi akan memberikan kebahagiaan, dan untuk menggapai itu manusia harus berputar mengorbankan banyak hal bahkan yang bersifat esensial.

Setidaknya itu gambaran sederhananya, toh saya belum selesai membacanya, hahaha.

Nanti, saya cerita lagi kalau sudah kelar bacanya.

Comments

Popular Posts