Perihal Keuangan (SOCMED HIATUS DAY 10) - 20 JULY 2022
Beberapa waktu lalu saya melihat iklan di Tiktok yang cukup mengerikan dari platform cicilan untuk belanja online.
Menjadi mengerikan karena iklan ini menyuguhkan narasi untuk anak muda jangan pernah takut ketinggalan zaman dan enggak kekinian. Mau punya outfit paling top tapi enggak punya duit? Gadget terbaru tapi tabungan sedikit? Staycation buat healing dari insecure dan mental health tapi bujet cekak? Mereka hadir sebagai solusi.
Iya, solusi menjadi kekinian dengan berhutang.
---
Menurut saya, literasi finansial dasar adalah salah satu skill penting yang tidak diajarkan di sekolah namun dianggap "ah nanti juga bisa sendiri".
Di Twitter, beberapa kali saya menemukan cerita anak muda yang bingung untuk membayar tagihan paylater-nya yang menumpuk, setelah ditelusuri ternyata sebagian besar paylater itu dipakai untuk membeli outfit kekinian, skincare, sampai perintilan lucu. Haishh ternyata ngutang buat beli impulsif.
Dan ternyata hal ini lumrah terjadi di anak muda sekarang, karena akses untuk mendapatkan barang dengan cicilan yang sangat mudah dan gaya hidup FOMO.
---
Sebagai orang medioker, saya punya beberapa prinsip dasar dalam mengatur keuangan, memang sih enggak bikin saya jadi orang kaya tapi setidaknya mampu bikin saya mindful perihal keuangan, dan terjauh dari paylater, yaitu:
Paham Aset vs Liabilitas
Secara sederhana menurut saya (cailah dah kayak pakar aja), aset adalah sumber daya yang nilainya bisa meningkat dalam jangka waktu menengah sampai panjang, sedangkan liabilitas adalah sumber daya yang bisa menambah pengeluaran.
Ada beragam jenis aset, misalnya tanah yang kita beli saat ini bisa menjadi aset jika dijual beberapa tahun yang akan datang, karena nilainya yang terus bertambah, saham perusahaan bagus yang dibeli hari ini dan terus bertumbuh dari waktu ke waktu juga menjadi aset bagi kita.
Liabilitas adalah kebalikannya, pakaian yang saya beli hari ini bisa menjadi liabilitas karena nilainya akan menurun dari tahun ke tahun, handphone yang saya beli hari ini akan jatuh harganya jika ada seri terbaru yang dirilis, dan lain-lain.
Benda Produktif vs Konsumtif
Hampir mirip dengan aset vs liabilitas, benda konsumtif dengan produktif adalah barang-barang yang mampu menghasilkan nilai tambah dari waktu ke waktu atau justru nilainya terus menurun dan "menghabiskan" nilai intrinsik, tergantung cara kita menggunakan.
Sebuah mobil bisa menjadi benda produktif jika kita menggunakannya untuk meningkatkan penghasilan, seperti digunakan untuk taksi online, mobilitas pekerjaan, atau untuk meningkatkan kredibilitas (biasanya untuk kawan-kawan berprofesi lobbying dan selling)
Tapi sebuah mobil juga bisa menjadi benda konsumtif jika kegunaannya hanya untuk memenuhi gaya hidup, tidak ada nilai tambah yang diberikan, perawatan yang mahal, dan biaya perbaikan yang tinggi.
Sekarang coba lihat smartphone canggih kita, apakah lebih sering digunakan untuk hal produktif atau malah lebih sering konsumtif?
Membedakan Antara Keinginan dan Kebutuhan
Seringkali kita membeli barang karena ya pengen aja, yes saya juga sering terjebak ke sini, hahaha
Saya biasanya menerapkan one week considering setiap kali membeli barang apapun melalui marketplace, yaitu jeda waktu sekitar seminggu untuk memutuskan apakah saya harus checkout atau menghapus barang di keranjang belanjaan. Saya menggunakan konsep ini dengan memikirkan kembali apakah belanjaan ini ada karena saya betulan butuh atau karena sekadar pengen saja.
Konsep one week considering ini sangat bermanfaat bagi saya, karena selain langkah awal untuk berhemat, ini juga langkah preventif saya dari menumpuk barang yang tidak terlalu dibutuhkan di rumah.
Beberapa waktu lalu saya baru saja beli sepatu lari yang hampir seharga running watch keluaran terbaru, tapi saya butuh waktu sebulan lebih untuk memastikan kalau saya beneran butuh sepatu ini, ada banyak pertimbangan untung rugi sampai utilitas sampai akhirnya saya memutuskan membelinya.
Oh iya, one week considering ini baiknya diterapkan di barang-barang kebutuhan sekunder ya, jangan primer, ya kali nunggu semingguan buat beli makan, ambyar boskuhhh.
***
Nah, dengan memahami konsep aset vs liabilitas, produktif vs konsumtif, keinginan vs kebutuhan, harusnya kita mampu terhindar dari berhutang untuk membeli barang konsumtif hanya karena ingin terlihat kekinian.
Tiga variabel "aset produktif sesuai kebutuhan" ini selalu menjadi pertimbangan saya setiap kali melihat barang bagus dan memutuskan pembelian, yha walaupun kadang terlupa juga setiap jajan buku, hahaha
Oh iya, jangan lupa untuk investasi dan menabung sebelum konsumsi, ya. Hal ini bakal saya bahas nanti.
![]() |
| Gambar hanya pemanis, biar ada thumbnail di beranda |

Comments
Post a Comment