Skeptis Personal Branding (SOCMED HIATUS DAY 8) - 18 JULY 2022
Sekali dua kali sampai ratusan kali kita bisa saja kecele dengan sikap dan sifat seseorang dari media sosial dan perilakunya sehari-hari.
Ada manager perusahaan yang menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang inspiratif, sering berbagi motivasi, citranya menjadi orang yang sangat peduli dan "nguwongke wong", tapi dalam kenyataan caranya memperlakukan pegawai jauh dari apa yang dicitrakan di media sosialnya.
Ada orang yang sering menjadi pembicara perihal karir, punya personal branding sebagai orang yang punya kecakapan di pekerjaannya, berbagi tips perihal pekerjaan untuk generasi muda, tapi ketika merasakan kerja bareng dengannya kita bisa aja keceplosan bilang "Halah! Gini doang!".
Ada orang yang sering berbagi nasihat keagamaan di media sosialnya, berbagi postingan bahwa dirinya anti riba dan perbankan, tapi punya hutang padamu yang belum dibayarkan, boro-boro dibayar, mengabari atau sekadar meminta keringanan untuk mencicil pun nihil, di satu sisi berbagi inspirasi "kesuksesannya" membeli kendaraan baru tanpa riba. 😉
Oke, yang terakhir itu saya curcol sedikit, hahaha
---
Tidak ada yang salah dengan permak media sosial, namanya juga medsos, tentunya banyak hal yang sudah kita saring, hanya hal-hal baik dari diri sendiri yang akan ditampilkan di status, feed, dan caption. Hal yang wajar.
Menjadi masalah ketika ada ketidaksinkronan antara apa yang kita "citrakan" dengan kemampuan diri, memaksakan apa yang tidak ada dalam diri.
Sudah sering kita mendengar orang yang terjerat pinjaman online karena hal konyol: gaya hidup.
Biasanya terjadi di kalangan anak muda ingin terlihat kekinian di media sosial, membeli gadget, pakaian, hingga kendaraan harga tinggi dengan cicilan, membeli barang-barang bersifat konsumtif yang sebetulnya tidak dibutuhkan dan cenderung mengalami depresiasi dari tahun ke tahun.
Citra "berada" tidak sebanding dengan kepemilikan dana, dan ini baru perihal gaya hidup.
---
Saya pribadi cenderung tidak mudah percaya dengan orang-orang yang mengelu-elukan personal branding sebagai way of life di media sosial, kita semacam "dipaksa" mempercayai imaji yang dipahatnya di dunia maya.
Tentunya saya juga tidak percaya individu yang mengaku dirinya inspiratif, yang menjadikan dirinya sebagai contoh dalam motivasi orang lain, makin kencang citra "positif" yang ditonjolkan biasanya makin banyak pula hal yang disembunyikan.
Tapi, itu sok tahu saya saja, bisa jadi saya salah.
(ditulis karena hari ini kecewa dengan kawan yang sibuk personal branding tapi kacrut teamwork-nya di project)
Comments
Post a Comment